RSS

perkembangan perbankkan di indonesia 1990 s/d sekarang dari segi apapun

5 Tahun Terakhir, Rerata Aset Perbankan Syariah Tumbuh 40%
Jumat, 11 November 2011,
Saat ini Indonesia menduduki peringkat keempat dari negara-negara dengan industri keuangan di seluruh dunia, rerata pertumbuhan aset perbankan syariah sendiri mencapai 40% dalam lima tahun terakhir. Paulus Yoga
Jakarta–Bank Indonesia (BI) mencatat, dalam lima tahun terakhir pertumbuhan aset bank syariah rata-rata mencapai 40%. Bank sentral menyatakan pertumbuhan tersebut jauh lebih tinggi dibanding negara-negara lain.
Hal tersebut diungkapkan Deputi Gubernur Bank Indonesia Halim Alamsyah, dalam konferensi pers acara “Islamic Microfinance Workshop” di Jakarta, Jumat 11 November 2011.
“Sementara rata-rata pertumbuhan aset perbankan syariah di negara lain sekitar 10%-15%,” tandasnya.
Per September 2011, Bank sentral mencatat aset perbankan syariah di Indonesia sebesar Rp126 triliun. Dari jumlah tersebut, sebesar Rp123 triliun merupakan aset Bank Umum Syariah dan Unit Usaha Syariah, sisanya sebesar Rp3 triliun merupakan aset Bank Perkreditan Rakyat Syariah.
Melalui pertumbuhan yang signifikan tersebut, saat ini posisi industri keuangan Indonesia berada di atas negara-negara lain yang selama ini dikenal terkemuka dalam industri keuangan syariah seperti Uni Emirat Arab, Kuwait, Pakistan dan Bahrain.
Indonesia menduduki peringkat keempat dari 39 negara berdasarkan hasil survei dari Islamic Finance Country Index dari Global Islamic Finance Report yang dikeluarkan oleh BMG Islamic sebuah lembaga konsultan bisnis dan manajemen terkemuka yang berbasis di London.
“Penilaian itu berdasarkan ukuran-ukuran tertentu dan bobot yang bervariasi, seperti jumlah lembaga keuangan syariah, izin pengaturan syariah, besarnya volume industri, edukasi dan budaya, serta kelengkapan infrastruktur,” terang Direktur Direktorat Perbankan Syariah BI Mulya E. Siregar. (*)Source : http://www.infobanknews.com/2011/11/5-tahun-terakhir-rerata-aset-perbankan-syariah-tumbuh-40/
Kata kunci: pertumbuhan, aset
tidak ada komentar


Industri Keuangan Syariah Indonesia Tembus Posisi 4 Dunia
Oct 18, '11 9:14 PM
untuk semuanya
Sebagai negara dengan jumlah penduduk muslim terbesar di dunia, kemampuan Indonesia menembus peringkat keempat industri keuangan syariah dunia patut diapresiasi, Bank Indonesia sendiri bangga dengan hasil tersebut, karena berhasil melampaui negara-negara lain yang selama ini dikenal terkemuka dalam industri keuangan syariah. Paulus Yoga
Jakarta–Bank Indonesia (BI) menyatakan, industri keuangan syariah Indonesia saat ini berhasil merangsek masuk ke peringkat 4 dunia. Adapun urutan pertama sampai ketiga masih ditempati negara-negara terkemuka dalam industri keuangan syariah seperti Iran, Malaysia dan Arab Saudi.
“Alhamdulillah tahun ini kita berada di level keempat yang selama ini kita tidak pernah masuk lima besar,” tukas Direktur Direktorat Perbankan Syariah BI Mulya Siregar, kepada wartawan, di Jakarta, Kamis, 13 Oktober 2011.
Posisi Indonesia tersebut berada di atas negara-negara lain yang selama ini dikenal terkemuka dalam industri keuangan syariah seperti Uni Emirat Arab, Kuwait, Pakistan dan Bahrain.
Peringkat keempat tersebut berdasarkan hasil survei dari Islamic Finance Country Index dari Global Islamic Finance Report yang dikeluarkan oleh BMG Islamic sebuah lembaga konsultan bisnis dan manajemen terkemuka yang berbasis di London.
“Penilaian itu berdasarkan ukuran-ukuran tertentu dan bobot yang bervariasi, seperti jumlah lembaga keuangan syariah, izin pengaturan syariah, besarnya volume industri, edukasi dan budaya, serta kelengkapan infrastruktur,” cakap Mulya. (*). http://www.infobanknews.com/2011/10/bi-industri-keuangan-syariah-indonesia-tembus-posisi-4-dunia/
Kata kunci: industri
tidak ada komentar


Meningkatkan Market Share, Tantangan Utama Keuangan Syariah
Apr 2, '10 9:19 PM
untuk semuanya
JAKARTA-- Berdasar skenario moderat BI (Bank Indonesia) industri perbankan syariah 2010 membutuhkan sekitar 7.100 orang SDI. Proyeksi tahun ini, jumlah karyawan sekitar 21.896 orang. Ini sebuah peluang penciptaan lapangan kerja yang cukup menggembirakan.

Namun, bagi Ketua Abisindo (Asosiasi Perbankan Syariah Seluruh Indonesia), Ahmad Riawan Amin, tingginya permintaan SDI syariah dianggap bukan persoalan besar. ''Yang lebih penting dalam pertumbuhan industri perbankan syariah, adalah kenapa market share masih dibawah lima persen. Ini persoalan besar kita,'' tutur Riawan di Jakarta.

Tantangan terbesar dalam industri keuangan perbankan syariah, menurutnya, ''bagaimana meningkatkan market share lebih besar lagi''. Tentu peningkatan itu tanpa meninggalkan prinsip-prinsip banking dan syariah. Peningkatan market share itu sendiri diharap berdampak dalam pertumbuhan ekonomi nasional.

Bicara soal SDI syariah yang dibutuhkan -- seiring dengan pertumbuhan industri perbankan syariah --, menurut Riawan, bukan soal jumlah besar personil yang dibutuhkan. ''SDI yang dibutuhkan menurut pandangan saya adalah, misi meyakinkan perusahaan. Ini usaha berdasar keyakinan. Ini yang lebih penting. Dan, ini tantangan, sekaligus butuh perjuangan,'' tambahnya.

Yang paling penting dalam upaya memenuhi kebutuhan SDI, adalah mereka yang memiliki attitude dan talenta perbankan syariah. Masalahnya, sekarang ini ada kesan kabur, mana itu bank syariah, dan mana itu bank konvensional. Maka, ada ID 'bukan sekedar bank biasa'. yang tidak biasa tentu saja, syariah.

Sekarang, kata Riawan, ''kita membutuhkan lembaga pendidikan syariah. Tapi, tidak begitu utama. Yang penting SDI memiliki attitude, bertalenta. Mereka mengelola industri perbankan dengan perilaku dan berkarakter sesuai ajaran syariah.

Syarat utama calon SDI bukan soal skill dan knowledge tentang syariah. Basic-nya, berkarakter dan berperilaku syariah dulu. Soal pengetahuan tentang perbankan syaraiah, menurut Riawan, gampang. Mereka tinggal mengikuti on the job training. Dilatih dalam program jangka pendek cukup. Soal skill dan knowledge antar orang tidak jauh beda.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 komentar:

Poskan Komentar